Tragedi Selat Bali, Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya dan Cerminan Keselamatan Laut di Indonesia

Selat Bali, Rabu malam, 2 Juli 2025, menjadi saksi bisu sebuah tragedi kelam: tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, kapal motor penyeberangan yang menuju Gilimanuk, Bali dari Ketapang, Banyuwangi. Insiden ini menyedot perhatian nasional sejak awal dan menimbulkan duka mendalam pada keluarga korban.

Kronologi Singkat

Pada sekitar pukul 22.56 WIB, kapal yang telah mengangkat muatan 53 orang penumpang, 12 awak kapal, serta 22 kendaraan (termasuk truk tronton) meninggalkan Pelabuhan Ketapang suasana laut tengah cukup buruk, gelombang mencapai 2–2,5 meter. Sekitar pukul 23.15 WIB, lampu kapal padam setelah terjadi kebocoran di ruang mesin. Kapal kemudian mengalami blackout total dan kehilangan stabilitas saat air laut masuk ke dek kendaraan, menyebabkan kapal miring lalu terbalik dan tenggelam sebelum evakuasi dapat dilakukan.

Evakuasi dan Jumlah Korban

Operasi SAR gabungan segera dikerahkan, mencakup Basarnas, TNI AL, Polri, dan instansi lainnya. Hingga 4 Juli, 30 penumpang diselamatkan dan sejumlah jasad ditemukan. Namun, operasi pencarian terus berlanjut karena cuaca buruk memperlambat progres tim SAR.

Menurut laporan terbaru hingga 7 Juli, jumlah korban meninggal yang teridentifikasi mencapai 8 orang, sementara 27 orang masih masuk daftar pencarian. Proses identifikasi yang dilakukan oleh Tim DVI Polda Jawa Timur telah diselesaikan melalui metode sidik jari dan pemeriksaan gigi serta properti korban sebelum mayat diserahkan kepada keluarga di RSUD Blambangan, Banyuwangi.

Sementara itu, data dari Wikipedia menyebutkan bahwa hingga 20 Juli, total korban yang diselamatkan tetap 30, sementara korban meninggal meningkat menjadi 19 orang, dan masih ada 16 orang dianggap hilang.

Faktor Penyebab & Investigasi

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan bahwa kebocoran terjadi akibat air masuk lewat pintu ruang mesin. Kombinasi dengan gelombang besar membuat kapal kehilangan keseimbangan dengan cepat. Meski secara desain kapal semestinya tahan gelombang setinggi 2–3 meter, ada kemungkinan kapal memiliki kerusakan tersembunyi atau tidak dirawat dengan baik.

Selain itu, diselidiki juga kemungkinan human error dan prosedur yang tidak memadai, termasuk overloading atau kendaraan tidak terikat aman, sehingga mempengaruhi stabilitas kapal saat gelombang menghantam dan menyebabkan kapal miring.

KNKT telah melakukan wawancara terhadap awak kapal, penumpang, dan pengelola pelabuhan. Tahap berikutnya adalah mengkaji rekam perawatan kapal, dokumen pelayaran, serta rekaman video proses muat kendaraan sebelum berangkat. Jika ditemukan pelanggaran, termasuk dokumen izin atau SPB yang tidak valid, akan diambil tindakan hukum sesuai Undang Undang Perhubungan dan regulasi keselamatan laut.

Respon Pemerintah & Publik

Media lokal dan internasional turut meliput tragedi ini. Pemerintah, termasuk DPR melalui Komisi V, mendesak Kemenhub dan KNKT untuk menindak tegas operator jika terbukti lalai. Presiden Prabowo turut memerintahkan aksi cepat tanggap untuk evakuasi dan penyelidikan menyeluruh.

Dampak dan Refleksi

Dampak dan refleksi yang terjadi pada kejadian ini adalah:

  • Keselamatan transportasi laut kembali menjadi sorotan nasional.
  • Kapal feri penyeberangan yang membawa kendaraan berat menghadapi risiko tinggi apabila prosedur operasional tidak dipenuhi.
  • Arus dan gelombang di Selat Bali, khususnya pada malam hari, menuntut perhatian khusus dalam penjadwalan pelayaran dan persiapan teknis kapal.

Kesimpulan

Tragedi Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli 2025 adalah pengingat bahwa keselamatan transportasi laut tidak bisa ditawar. Keterlibatan dari berbagai pihak operator kapal, regulator, penegak hukum, hingga lembaga investigasi harus bekerja sama memastikan peristiwa serupa tidak terulang. Mengingat masih ada korban yang belum ditemukan hingga pertengahan Juli, proses pencarian dan investigasi tetap menjadi prioritas utama.

Sementara itu, bagi keluarga korban dan masyarakat umum, semoga tragedi ini dapat membuka mata terhadap pentingnya prosedur keselamatan laut dan meningkatkan kesiapsiagaan di jalur penyeberangan yang memang rawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *