Bumi itu Bulat, Kecuali Kalau Kamu Tidur di Kasur Datar

Pernahkah kamu berpikir, sebenarnya Bumi itu bulat atau datar? Pertanyaan ini kadang terasa kocak, tapi nyatanya sampai hari ini masih ada orang yang percaya bahwa Bumi berbentuk datar. Mereka dikenal dengan sebutan flat earther. Sementara itu, ilmu pengetahuan sejak lama menunjukkan bukti bahwa Bumi bulat. Jadi, apakah kita semua ditipu sejak kecil oleh bola dunia plastik di meja sekolah? Atau memang Bumi benar benar bulat?

Sejarah mencatat bahwa sejak ribuan tahun lalu manusia sudah penasaran dengan bentuk Bumi. Bangsa Mesir kuno, Mesopotamia, hingga Yunani memiliki pandangan berbeda. Sebagian menganggap Bumi seperti piring besar, ada juga yang percaya Bumi ditopang oleh makhluk mitologi. Namun, teori Bumi bulat semakin kuat ketika Eratosthenes, seorang ilmuwan Yunani, berhasil menghitung keliling Bumi hanya dengan tongkat, bayangan, dan otak cerdasnya. Hasilnya? Nyaris mendekati ukuran sebenarnya! Bayangkan, tanpa satelit, tanpa GPS, ia sudah bisa membuktikan bahwa Bumi melengkung.

Ketika manusia berhasil menembus luar angkasa, bukti visual semakin tak terbantahkan. Ribuan foto dari satelit, roket, hingga misi antariksawan memperlihatkan Bumi sebagai bola biru yang indah. Kalau semua itu rekayasa, berarti ada jutaan teknisi, fotografer, dan ilmuwan di seluruh dunia yang kompak berbohong selama puluhan tahun. Rasanya mustahil, kecuali mereka semua ikut kursus Photoshop besar besaran.

Bukti sederhana sebenarnya juga bisa kita lihat sehari hari. Cobalah perhatikan kapal yang berlayar ke tengah laut. Bagian bawah kapal akan menghilang lebih dulu, lalu disusul bagian atas. Hal itu terjadi karena Bumi melengkung. Begitu pula dengan adanya zona waktu. Saat Jakarta sudah pagi, New York masih malam. Kalau Bumi datar, seluruh dunia seharusnya siang atau malam bersamaan. Aneh kan, kalau semua orang sarapan di jam yang sama?

Selain itu, gravitasi menjadi penjelasan penting. Karena Bumi bulat, gravitasi menarik semua benda ke pusat. Kita selalu merasa “menempel” di permukaan, entah berada di Indonesia, Brazil, atau Kutub Selatan. Kalau Bumi datar, orang yang berdiri di tepi piringan akan merasa seperti berjalan miring. Untungnya tidak ada yang hidup miring meskipun hidup kadang memang terasa “miring”.

Nah, para penganut Bumi datar punya beberapa argumen khas. Misalnya:

  • “Kalau Bumi bulat, kenapa kita nggak jatuh?”

Karena gravitasi selalu menarik ke pusat Bumi.

  • “Foto NASA cuma editan komputer.”

Jadi, semua satelit dan astronot ternyata jago desain grafis?

  • “Pilot pesawat harusnya menundukkan pesawat biar nggak keluar angkasa.”

Faktanya, gravitasi otomatis membuat pesawat mengikuti lengkungan Bumi.

Meski terdengar lucu, tetap ada orang yang percaya pada teori flat earth. Alasannya seringkali bukan soal bukti, tapi soal kepercayaan dan psikologi. Menolak ilmu pengetahuan membuat sebagian orang merasa “lebih kritis”. Ada juga yang memang tidak percaya pada institusi besar. Sayangnya, sikap kritis yang benar bukan sekadar menolak, melainkan mencari bukti logis yang bisa diuji.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi sains. Kalau orang terbiasa menguji fakta, mereka tidak mudah terjebak teori konspirasi. Bayangkan saja, banyak orang yang percaya Bumi datar tapi tetap pakai GPS, padahal sistem satelit itu hanya bisa berfungsi dengan asumsi Bumi bulat. Itu seperti bilang nasi goreng nggak enak, tapi tiap malam tetap mesen nasi goreng di warung sebelah.

Akhirnya, perdebatan soal Bumi bulat atau datar bisa menjadi hiburan. Menarik memang melihat bagaimana orang mempertahankan keyakinannya. Tapi pada kenyataannya, semua bukti dari eksperimen kuno hingga teknologi modern menunjukkan Bumi bulat. Jadi, kalau masih ada yang bilang datar, mungkin bukan karena Buminya yang datar, tapi hidupnya yang terlalu datar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *